Hidup di
desa sangat jauh berbeda dengan hidup di perkotaan. Suasana di desa sangat nyaman dan tenteram. Di sana
suasananya masih sangat alami dan jauh dari kebisingan-kebisingan yang
selalu lekat pada perkotaan. Tidak hanya suasananya saja yang menjadikan hidup
di desa lebih nyaman dibandingkan di kota, tetapi kerukunan antar warga yang
masih sangat erat membuat kehidupan di desa semakin indah. Di desa semua
warganya masih menganut asas gotong royong dan peduli satu sama lain. Tidak
seperti penduduk perkotaan yang sudah mulai acuh tak acuh terhadap lingkungan
sekitarnya. Bahkan hampir tidak ada tindakan kriminal yang terjadi di desa. Oleh karena itu, hidup di desa sangat
menyenangkan jika dibandingkan dengan hidup di perkotaan.
Rabu, 14 Desember 2016
Senin, 14 November 2016
Pengukuhan Di Manis Raya Tugas D7
Pengalaman Tak Terlupakan Saat Mengikuti Pengukuhan
Di Manis Raya Pangkalan STKIP PERSADA KHATULISTIWA SINTANG
Haii
.. sobat-sobat semua disini aku ingin berbagi cerita menarik tentang pengalaman
menarikku di Buper (bumi perkemahan) yang baru saja berlalu kemarin. cerita tak
terlupakan ini dimulai pada saat kami mengikuti pengukuhan di Manis Raya
(Sepauk) yang berlangsung selama 3 hari. pada hari jumat tanggal 11, November
2016 kami sudah bersiap-siap berangkat menuju Buper. pukul 07.00 kami semua
Prodi PGSD telah berkumpul di Kampus Biru Stkip Persada Khatulistiwa Sintang
karena akan diadakan Upacara Pembukaan Kegiatan Pengukuhan Prodi PGSD yang
diikuti seluruh Mahasiswa-Mahasiswi Prodi PGSD, kegiatan ini merupakan kegiatan
wajib yang harus diikuti seluruh Mahasiswa-Mahasiswi Stkip PK Sintang.
terutama Prodi PGSD dan diadakan setiap tahunnya, pada hari jumat tanggal 11, November 2016 cuacanya begitu panas sehingga membuat kami sangat kelelahan, tapi itu bukan halangan untuk keberangkatan kami, justru kebalikannya itu membuat kami semakin bersemangat ingin cepat berangkat menuju Buper, pada pukul 16.00 / pukul 04.00 subuh saya sudah terbangun dan segera bersiap-siap serta tidak lupa, saya kembali mengecek semua perlengkapan yang harus saya bawa, seperti: baju hitam, celana trening, baju olahraga, selimut, handuk, senter, mantel, plastic packing, serta peralatan mandi. Setelah itu barulah saya mandi dan setelah itu kembali bersiap-siap untuk berangkat kekampus dengan menggunakan pakaian pramuka lengkap.
Setelah siap pada pukul 06.00 tepat saya berangkat menuju kampus dengan diantar oleh ayah saya, lalu sesampai dikampus ternyata, baru beberapa orang saja yang sudah datang kekampus, karena pada hari kamis, kami diberitahu untuk datang kekampus pada pukul 06.30 semua sudah harus berkumpul semuanya dikampus, tapi saya datang lebih awal karena takut terlambat. Tapi untungnya saya tidak terlambat, setelah menunggu sekitar 15-20 menit-an barulah teman-teman saya yang lainnya datang, setelah kurang lebih satu jam menunggu kami disuruh menuju lapangan Upacara untuk persiapan upacara pembukaan pengukuhan dan ada penyematan tanda peserta secara simbolis oleh Kaprodi PGSD yaitu, bapak Imanuel Sairo Awang, S.si. M.Pd dan Upacara Penyematan dan Pembukaan Pengukuhan tersebut hanya berlangsung kurang lebih satu jam, karena cuaca yang begitu panas membuat beberapa temanku, tidak mampu mengikuti Upacara hingga selesai, lalu tepat pada pukul 08.00 upacara pun berakhir dan kami diberikan waktu untuk beristrahat dulu sebelum berangkat.
Waktu kami sedang beristrahat, truk yang akan membawa kami menuju Buper pun datang untuk menjemput kami, lalu setelah istrahat kurang lebih 20 menit kami pun disuruh berkumpul kembali didepan salah satu gedung dikampus kami. Setelah kami berkumpul kami pun diberi arahan tentang keberangkatan dan penyimpanan barang-barang yang akan kami bawa, dan kami masing-masing per-Reka dibagikan jadwal seluruh kegiatan diBuper , serta dibagikan pita tanda peserta, setelah itu kami diberi arahan oleh kakak-kakak senior untuk mengangkut barang-barang kami menuju truk yang akan membawa barang kami, kami berangkat menggunakan 5 buah truk yang mana 3 truk akan membawa kami semua peserta pengukuhan dan 2 truk lagi akan membawa barang-barang bawaan kami, truk kuning yang terbuka digunakan untuk membawa segala, tenda, peralatan memasak, serta kayu untuk patok tenda kami, dan truk tentara yang berbentuk bok digunakan untuk membawa pakaian kami karena takut kehujanan dijalan, maka semua barang-barang kami yang kira-kira bisa basah kami masukkan ke truk bok, dan kami yang putri menaiki truk tentara terbuka yang memiliki atap dan mereka yang putra menaiki truk terbuka.
Karena truk tentara hanya 2 buah yang memiliki atap, sehingga teman-teman ku yang putri lainnya harus ikut menaiki truk terbuka bersama mereka yang putra dan sebagiannya lagi menaiki truk barang yang terbuka, setelah semuanya siap kami pun berangkat, didalam perjalanan sangatlah seru, karena kami semua bergembira-ria, ada yang bernyanyi-nyanyi, mendengarkan lagu dan pada saat melewati jalan jelek, turunan yang tinggi serta tikugan, kami semua pun berteriak bersama, sambil bertukar cerita dengan teman lainnya dan meski ada beberapa orang yang mabuk perjalanan, tapi itu juga bukan halangan bagi kami, dan itu dapat teratasi dengan baik, dan pada akhirnya setelah menempuh perjalanan kira-kira satu jam lebih kami pun sampai di Buper, Manis Raya SMPN 2 Sepauk, pemandangan yang masih hijau dan segar karena masih banyak pohon-pohan besar dan kecil yang mengelilingi Buper sehingga membuat suasana tetap sejuk meski cuaca sangat panas, setelah kami turun dari truk dan barang—barang kami juga telah diturunkan dan kami istirahat sekitar 10-15 menit sambil menunggu barang-barang kami diturunkan semua serta menunggu arahan dari senior kami pun menikmati udara yang masih segar dan sejuk itu.
Setelah beristrahat sejenak kami pun mendapat arahan untuk mengangkut barang-barang kami menuju lokasi Buper yang telah ditentukan, lalu kami semua pun mengangkat barang-barang bawaan kami bersama-sama, disinilah kebersamaan, kekompakan, serta gotong-royong sangat terasa dan begitu Nampak, setelah semua barang-barang kami sudah diangkut, kami pun segera diberi arahan untuk mendirikan tenda dan waktu mendirikan tenda hanya 30 menit meski sangat tergesa-gesa akhirnya selesai juga dan tenda kami telah berdiri dengan bantuan kakak pendamping Reka kami dan kakak senior lainnya. Setelah tenda didirikan, kami langsung menata perlengkapan yang sudah kami bawa. Tak lama kemudian kami pun diberi waktu beristrahat dan memakan bekal yang kami bawa dari rumah masing-masing dan sambil memasak untuk makan siang.
Dan ternyata sialnya kompor yang dibawa oleh temanku ternyata saringan kompornya sudah jelek, sehingga membuat nasi yang kami masak dari jam 03.00 sampai malam pun tak masak gara-gara kompor jelek, dan waktu kami masak kami diberi arahan untuk berkumpul dilapangan dan disuruh untuk bersiap-siap untuk mempersentasikan hasta karya Reka masing-masing dan setelah itu kami pun berkumpul disalah satu ruangan di SMPN 2 Sepauk tersebut. Dari masing-masing Reka pun maju dan masing-masing mempersentasikan hasta karya Rekanya, dan setelah satu persatu Reka maju untuk persentasi akhirnya selesai juga dan setelah persentasi hasta karya selesai kami pun ibadah/berdoa bersama dan yang muslim pun sholat, dan karena kecapeaan ada beberapa teman kami yang sakit dan pingsan karena efek mabuk perjalanan dan ada juga yang kesurupan mungkin karena kami datang ketempat yang baru dan tempat orang lupa permisi dan kami langsung membangun tenda maka para penghuninya marah karena mendengar suara berisik dari orang luar dan pendatang.
sehingga setelah kami selesai ibadah kami pun langsung menuju kesungai untuk meminta ijin dan berdoa bersama-sama disungai, dan saat kami selesai berdoa salah satu teman kami jatuh pingsan dan langsung diangkat oleh mereka yang putra dan kakak-kakak senior dan kami yang lain pun merasa ketakutan dan panik, tapi kepanikan dan ketakutan kami tidak berlangsung lama karena setelah selesai berdoa kami pun langsung disuruh kembali ketenda masing-masing, dan karena nasi kami belum masak maka kami pun memasaknya lagi, hingga tiba waktunya untuk mandi dan kami pun diberi arahan untuk pergi mandi dan didampingi oleh kakak-kakak senior kami, dan mereka yang sedang berhalangan pun disuruh mandi di WC dan kami yang bersih disuruh mandi kesungai, dan ada juga teman-teman kami banyak juga yang tidak berani pergi kesungai, dan saya dan teman-teman yang lain hanya bersih-bersih tubuh dan cuci muka dan ada juga yang mandi, setelah waktu mandi habis kami pun kembali ketenda dan bersiap-siap untuk mendengarkan materi tentang forum PGSD dan forum Pramuka sebelumnaya setelah kami semua selesai bersiap-siap kami pun disuruh makan dan nasi kami pun tetap tidak bisa masak karena efek terlalu lama direndam dalam air karena tidak bisa mendidih jadi Karena keterbatasan waktu.
kami terpaksa memakan nasi mentah dan sayur mentah agar kami punya tenaga untuk mengikuti kegiatan selanjutnya daripada kami tidak makan dan badan kami drop lebih baik kami memakan apa yang bisa kami makan sajalah, disini lah kebersamaan, saling berbagi, serta merasakan susahnya hidup kekurangan dan jauh dari orang tua, dan pertama kalinya bagi kami makan makanan yang masaknya sedikit tapi banyak mentahnya alias mentah. Setelah makan kami diberi arahan untuk berkumpul dilapangan dan karena melihat cuaca yang kurang mendukung jadi kami disuruh mengemas barang-barang kami yang diperkirakan bisa basah kedalam plastik packing agar tidak basah dan kami disuruh membawanya kedepan ruangan dan kami disuruh mendengarkan materi forum PGSD dan forum Pramuka, disini ada pemberi materi dan kami sebagai peserta, serta ada sesi Tanya jawab, belum lama kami memasuki ruangan hujan pun turun menguyur Buper dan untungnya tidak ada tenda kami yang rubuh, akibat hujan, angin dan suara Guntur yang begitu keras membuat kami semua ketakutan, untungnya kami semua berada didalam ruangan, dan disetiap forum yang diberikan ada game untuk mengetes kefokusan, kekompakan, kebersamaan dan kecerdikan serta kecerdasan.
Game ini bertujuan untuk mengenal satu sama lain agar lebih dekat dan kami juga dibagikan nama cantik, contohnya seperti: cungkring, lalat, semut, gedong, contong nasi, mengkudu, buntal, tunggau, move on, masa lalu, masa depan, telinga, mata, alis dan masih banyak lagi. setelah hujan reda dan waktu untuk penyampaian materi pun telah habis kami pun disuruh kembali ketenda kami masing-masing. Dan ternyata yang membuat jengkel dan ada rasa ingin marah setelah datang ketenda, tenda kami kebanjiran dan tenda alas beserta tikar kami basah semuanya, sehingga membuat sangat tak nyaman untuk ditempati dan harus dialasi dengan plastik packing agar tidak basah. Tapi karena beralaskan tanah langsung hanya dilapisi plastik dan tikar itu membuat kami sangat tidak nyaman tidur, kedinginan dan tidak bisa tidur nyenyak.
Tapi kami tetap harus tidur agar badan tidak drop dan takut dimarahi oleh kakak-kakak Pembina yang mengawasi kami, meski harus pura-pura saja tidurnya. Waktu tidak terasa berlalu dan pukul 03.00 subuh kami pun terbangun dan ada teman kami yang langsung memasak lagi, dan msih banyak juga teman-teman yang lain yang belum bangun, dan setelah baring-baring kami pun memaksakan diri untuk bangun meski sangat dingin sekali, lalu kami segera cuci muka dan gosok gigi karena belum diijinkan untuk mandi, dan tepat pukul 04.00 subuh teman kami yang muslim disuruh sholat.dan kami yang non muslim setelah selesai cuci muka dan gosok gigi langsung kembali ketenda sambil menunggu masakan kami semuanya masak dan puji tuhan nasi dan sayur kami bisa masak dengan sempurna. Akhirnya kami bisa makan nasi dan sayur yang benar-benar masak, dan sebelum sayur selesai dimasak kami sudah disuruh berkumpul dilapangan, sekitar jam 05.10 pagi untuk senam pagi dan minum bersama.
Meski masih terasa malas dan dingin untuk keluar tapi mau tidak mau tetap harus ikut senam, setelah pemanasan dan pendinginan kembali, kurang lebih satu jam senam pun selesai dan kami pun dibagikan minuman energen, satu Rekanya masing-masing mendapat setengah cangkir energen untuk dibagikan kesemua anggota rekanya, dan masing-masing anggotanya mendapat satu teguk minuman, ini untuk merasakan rasanya berbagi meski sedikit tapi tetap bisa kebagiaan semuanya. Setelah selesai senam dan minum bersama kami pun disuruh kembali ketenda masing-masing untuk bersiap-siap mengikuti Upacara pagi dan kami pun langsung ganti baju dengan pakaian pramuka setelah selesai ganti baju kami pun disuruh makan, dan kemudian kami langsung berkumpul dilapangan untuk upacara pagi, dan upacara pun tidak berlangsung lama. Setelah selesai upacara kami kembali ketenda masing-masing dan beristrahat sebentar lalu gantu baju dengan baju hitam dan celana trening dan bersiap-siap untuk pergi penjelajahan.
Setelah istrahat dan setelah selesai siap-siap kami pun disuruh berkumpul lagi dilapangan untuk berangkat penjelajahan, dan keberangkatannya secara bergilir, Reka ku mendapat urutan ke 5, kami sangat senang dan bersemangat, dalam penjelajahan ini kami melewati beberapa pos dan disetiap pos sangat menantang dan menguji mental, fisik, kebersamaan, kekompakan kecerdasan dan kecerdikan. Di setiap pos kami banyak mendapatkan pengetahuan baru, keseruan, menemukan hal-hal lucu dan puji tuhan semua pos yang kami lalui dapat kami lewati dengan baik, dan pada akhirnya kami kembali keBuper dengan keadaan yang baik-baik saja. Hanya salah satu teman ku yang kehilangan nama cantiknya gara-gara dia tidak bisa menyebut nama bapak pandu pramuka Indonesia dengan benar, itu memang sangat lucu sekali, karena pertanyaan itu ditanyakan lebih dari 20 kali dan tidak bisa dia jawab dan akhirnya dia harus rela menyerahkan nama cantiknya.
Setelah penjelajahan selesai kami pun disuruh kembali ketenda untuk beristrahat dan setelah semua peserta kembali keBuper kami disuruh berkumpul kembali dilapangan dan disuruh mencari kayu untuk mendirikan api unggun dan kami pun pergi mencari kayu, setelah semua kayu terkumpul dan kami pun diarahkan untuk mandi dan kami pun pergi mandi dan membersihkan semua badan kami yang sudah sangat kotor kena lumpur, setelah mandi barulah terasa segar. Dan malam api unggun pun tiba kami semua bersiap untuk penampilan pensi, dan malam itu tidak akan pernah terlupakan karena semuanya begitu menyenangkan, ada yang bernyanyi, berjoget, main gitar dan setelah semua Reka selesai menampilkan pensinya kami pun disuruh kembali ketenda masing-masing untuk tidur dan malam itu terasa sangat nyaman untuk tidur tapi kami tidak bisa tidur karena memikirkan aka nada jurit malam dan setelah kurang lebih tidur satu jam tiba-tiba saya merasa ada yang membangunkan ku, dan ternyata itu adalah kakak Pembina, dan dia menyuruh Reka kami untuk berangkat jurit malam dan dengan mata yang masih ngantuk kami pun terbangun dan langsung berangkat karena tidak boleh berisik takut Reka-reka lain terbangun juga.
Kami pun mulai jurit malam dengan berpegang tangan dan hanya menggunakan lilin sebagai penerang, lalu setelah sampai kedepan ruangan yang harus kami masuki untuk mencari pita kami disuruh mematikan lilin dan masuk keruangan dengan keadaan gelap, dan temanku yang satunya sangat takut dan kami melihat kuntilanak bohongan dan setelah disuruh keluar kami pun keluar tergesa-gesa karena ketakutan dan aku tidak ada rasa takut karena tau itu kuntilanak bohongan. Dan setelah selesai kami disuruh berkumpul dilapangan basket dan kami pun berbaring dan tidur meski dingin dan banyak nyamuk kami tetap memaksakan diri untuk tidur karena sangat ngantuk.
Dan waktu tidak terasa berlalu setelah pagi kami pun senam dan kembali ketenda untuk masak dan makan serta siap-siap untuk baksos, gugur gunung (bongkar tenda), permainan rakyat dan upacara penutupan serta pembagian hadiah, dan setelah semuanya selesai kami pun pulang kembali kesintang. Dan disinilah saya dapat mengambil kesimpulan bagaimana supaya saya dapat hidup lebih mandiri dan hidup tanpa campur tangan orang tua serta dapat membina kerjasama dan persaudaraan antar sesama. Selain itu, saya belajar untuk menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, dan dapat mengembang kemampuan diri mengatasi tantangan hidup kedepannya. Ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan sampai kapanpun.
terutama Prodi PGSD dan diadakan setiap tahunnya, pada hari jumat tanggal 11, November 2016 cuacanya begitu panas sehingga membuat kami sangat kelelahan, tapi itu bukan halangan untuk keberangkatan kami, justru kebalikannya itu membuat kami semakin bersemangat ingin cepat berangkat menuju Buper, pada pukul 16.00 / pukul 04.00 subuh saya sudah terbangun dan segera bersiap-siap serta tidak lupa, saya kembali mengecek semua perlengkapan yang harus saya bawa, seperti: baju hitam, celana trening, baju olahraga, selimut, handuk, senter, mantel, plastic packing, serta peralatan mandi. Setelah itu barulah saya mandi dan setelah itu kembali bersiap-siap untuk berangkat kekampus dengan menggunakan pakaian pramuka lengkap.
Setelah siap pada pukul 06.00 tepat saya berangkat menuju kampus dengan diantar oleh ayah saya, lalu sesampai dikampus ternyata, baru beberapa orang saja yang sudah datang kekampus, karena pada hari kamis, kami diberitahu untuk datang kekampus pada pukul 06.30 semua sudah harus berkumpul semuanya dikampus, tapi saya datang lebih awal karena takut terlambat. Tapi untungnya saya tidak terlambat, setelah menunggu sekitar 15-20 menit-an barulah teman-teman saya yang lainnya datang, setelah kurang lebih satu jam menunggu kami disuruh menuju lapangan Upacara untuk persiapan upacara pembukaan pengukuhan dan ada penyematan tanda peserta secara simbolis oleh Kaprodi PGSD yaitu, bapak Imanuel Sairo Awang, S.si. M.Pd dan Upacara Penyematan dan Pembukaan Pengukuhan tersebut hanya berlangsung kurang lebih satu jam, karena cuaca yang begitu panas membuat beberapa temanku, tidak mampu mengikuti Upacara hingga selesai, lalu tepat pada pukul 08.00 upacara pun berakhir dan kami diberikan waktu untuk beristrahat dulu sebelum berangkat.
Waktu kami sedang beristrahat, truk yang akan membawa kami menuju Buper pun datang untuk menjemput kami, lalu setelah istrahat kurang lebih 20 menit kami pun disuruh berkumpul kembali didepan salah satu gedung dikampus kami. Setelah kami berkumpul kami pun diberi arahan tentang keberangkatan dan penyimpanan barang-barang yang akan kami bawa, dan kami masing-masing per-Reka dibagikan jadwal seluruh kegiatan diBuper , serta dibagikan pita tanda peserta, setelah itu kami diberi arahan oleh kakak-kakak senior untuk mengangkut barang-barang kami menuju truk yang akan membawa barang kami, kami berangkat menggunakan 5 buah truk yang mana 3 truk akan membawa kami semua peserta pengukuhan dan 2 truk lagi akan membawa barang-barang bawaan kami, truk kuning yang terbuka digunakan untuk membawa segala, tenda, peralatan memasak, serta kayu untuk patok tenda kami, dan truk tentara yang berbentuk bok digunakan untuk membawa pakaian kami karena takut kehujanan dijalan, maka semua barang-barang kami yang kira-kira bisa basah kami masukkan ke truk bok, dan kami yang putri menaiki truk tentara terbuka yang memiliki atap dan mereka yang putra menaiki truk terbuka.
Karena truk tentara hanya 2 buah yang memiliki atap, sehingga teman-teman ku yang putri lainnya harus ikut menaiki truk terbuka bersama mereka yang putra dan sebagiannya lagi menaiki truk barang yang terbuka, setelah semuanya siap kami pun berangkat, didalam perjalanan sangatlah seru, karena kami semua bergembira-ria, ada yang bernyanyi-nyanyi, mendengarkan lagu dan pada saat melewati jalan jelek, turunan yang tinggi serta tikugan, kami semua pun berteriak bersama, sambil bertukar cerita dengan teman lainnya dan meski ada beberapa orang yang mabuk perjalanan, tapi itu juga bukan halangan bagi kami, dan itu dapat teratasi dengan baik, dan pada akhirnya setelah menempuh perjalanan kira-kira satu jam lebih kami pun sampai di Buper, Manis Raya SMPN 2 Sepauk, pemandangan yang masih hijau dan segar karena masih banyak pohon-pohan besar dan kecil yang mengelilingi Buper sehingga membuat suasana tetap sejuk meski cuaca sangat panas, setelah kami turun dari truk dan barang—barang kami juga telah diturunkan dan kami istirahat sekitar 10-15 menit sambil menunggu barang-barang kami diturunkan semua serta menunggu arahan dari senior kami pun menikmati udara yang masih segar dan sejuk itu.
Setelah beristrahat sejenak kami pun mendapat arahan untuk mengangkut barang-barang kami menuju lokasi Buper yang telah ditentukan, lalu kami semua pun mengangkat barang-barang bawaan kami bersama-sama, disinilah kebersamaan, kekompakan, serta gotong-royong sangat terasa dan begitu Nampak, setelah semua barang-barang kami sudah diangkut, kami pun segera diberi arahan untuk mendirikan tenda dan waktu mendirikan tenda hanya 30 menit meski sangat tergesa-gesa akhirnya selesai juga dan tenda kami telah berdiri dengan bantuan kakak pendamping Reka kami dan kakak senior lainnya. Setelah tenda didirikan, kami langsung menata perlengkapan yang sudah kami bawa. Tak lama kemudian kami pun diberi waktu beristrahat dan memakan bekal yang kami bawa dari rumah masing-masing dan sambil memasak untuk makan siang.
Dan ternyata sialnya kompor yang dibawa oleh temanku ternyata saringan kompornya sudah jelek, sehingga membuat nasi yang kami masak dari jam 03.00 sampai malam pun tak masak gara-gara kompor jelek, dan waktu kami masak kami diberi arahan untuk berkumpul dilapangan dan disuruh untuk bersiap-siap untuk mempersentasikan hasta karya Reka masing-masing dan setelah itu kami pun berkumpul disalah satu ruangan di SMPN 2 Sepauk tersebut. Dari masing-masing Reka pun maju dan masing-masing mempersentasikan hasta karya Rekanya, dan setelah satu persatu Reka maju untuk persentasi akhirnya selesai juga dan setelah persentasi hasta karya selesai kami pun ibadah/berdoa bersama dan yang muslim pun sholat, dan karena kecapeaan ada beberapa teman kami yang sakit dan pingsan karena efek mabuk perjalanan dan ada juga yang kesurupan mungkin karena kami datang ketempat yang baru dan tempat orang lupa permisi dan kami langsung membangun tenda maka para penghuninya marah karena mendengar suara berisik dari orang luar dan pendatang.
sehingga setelah kami selesai ibadah kami pun langsung menuju kesungai untuk meminta ijin dan berdoa bersama-sama disungai, dan saat kami selesai berdoa salah satu teman kami jatuh pingsan dan langsung diangkat oleh mereka yang putra dan kakak-kakak senior dan kami yang lain pun merasa ketakutan dan panik, tapi kepanikan dan ketakutan kami tidak berlangsung lama karena setelah selesai berdoa kami pun langsung disuruh kembali ketenda masing-masing, dan karena nasi kami belum masak maka kami pun memasaknya lagi, hingga tiba waktunya untuk mandi dan kami pun diberi arahan untuk pergi mandi dan didampingi oleh kakak-kakak senior kami, dan mereka yang sedang berhalangan pun disuruh mandi di WC dan kami yang bersih disuruh mandi kesungai, dan ada juga teman-teman kami banyak juga yang tidak berani pergi kesungai, dan saya dan teman-teman yang lain hanya bersih-bersih tubuh dan cuci muka dan ada juga yang mandi, setelah waktu mandi habis kami pun kembali ketenda dan bersiap-siap untuk mendengarkan materi tentang forum PGSD dan forum Pramuka sebelumnaya setelah kami semua selesai bersiap-siap kami pun disuruh makan dan nasi kami pun tetap tidak bisa masak karena efek terlalu lama direndam dalam air karena tidak bisa mendidih jadi Karena keterbatasan waktu.
kami terpaksa memakan nasi mentah dan sayur mentah agar kami punya tenaga untuk mengikuti kegiatan selanjutnya daripada kami tidak makan dan badan kami drop lebih baik kami memakan apa yang bisa kami makan sajalah, disini lah kebersamaan, saling berbagi, serta merasakan susahnya hidup kekurangan dan jauh dari orang tua, dan pertama kalinya bagi kami makan makanan yang masaknya sedikit tapi banyak mentahnya alias mentah. Setelah makan kami diberi arahan untuk berkumpul dilapangan dan karena melihat cuaca yang kurang mendukung jadi kami disuruh mengemas barang-barang kami yang diperkirakan bisa basah kedalam plastik packing agar tidak basah dan kami disuruh membawanya kedepan ruangan dan kami disuruh mendengarkan materi forum PGSD dan forum Pramuka, disini ada pemberi materi dan kami sebagai peserta, serta ada sesi Tanya jawab, belum lama kami memasuki ruangan hujan pun turun menguyur Buper dan untungnya tidak ada tenda kami yang rubuh, akibat hujan, angin dan suara Guntur yang begitu keras membuat kami semua ketakutan, untungnya kami semua berada didalam ruangan, dan disetiap forum yang diberikan ada game untuk mengetes kefokusan, kekompakan, kebersamaan dan kecerdikan serta kecerdasan.
Game ini bertujuan untuk mengenal satu sama lain agar lebih dekat dan kami juga dibagikan nama cantik, contohnya seperti: cungkring, lalat, semut, gedong, contong nasi, mengkudu, buntal, tunggau, move on, masa lalu, masa depan, telinga, mata, alis dan masih banyak lagi. setelah hujan reda dan waktu untuk penyampaian materi pun telah habis kami pun disuruh kembali ketenda kami masing-masing. Dan ternyata yang membuat jengkel dan ada rasa ingin marah setelah datang ketenda, tenda kami kebanjiran dan tenda alas beserta tikar kami basah semuanya, sehingga membuat sangat tak nyaman untuk ditempati dan harus dialasi dengan plastik packing agar tidak basah. Tapi karena beralaskan tanah langsung hanya dilapisi plastik dan tikar itu membuat kami sangat tidak nyaman tidur, kedinginan dan tidak bisa tidur nyenyak.
Tapi kami tetap harus tidur agar badan tidak drop dan takut dimarahi oleh kakak-kakak Pembina yang mengawasi kami, meski harus pura-pura saja tidurnya. Waktu tidak terasa berlalu dan pukul 03.00 subuh kami pun terbangun dan ada teman kami yang langsung memasak lagi, dan msih banyak juga teman-teman yang lain yang belum bangun, dan setelah baring-baring kami pun memaksakan diri untuk bangun meski sangat dingin sekali, lalu kami segera cuci muka dan gosok gigi karena belum diijinkan untuk mandi, dan tepat pukul 04.00 subuh teman kami yang muslim disuruh sholat.dan kami yang non muslim setelah selesai cuci muka dan gosok gigi langsung kembali ketenda sambil menunggu masakan kami semuanya masak dan puji tuhan nasi dan sayur kami bisa masak dengan sempurna. Akhirnya kami bisa makan nasi dan sayur yang benar-benar masak, dan sebelum sayur selesai dimasak kami sudah disuruh berkumpul dilapangan, sekitar jam 05.10 pagi untuk senam pagi dan minum bersama.
Meski masih terasa malas dan dingin untuk keluar tapi mau tidak mau tetap harus ikut senam, setelah pemanasan dan pendinginan kembali, kurang lebih satu jam senam pun selesai dan kami pun dibagikan minuman energen, satu Rekanya masing-masing mendapat setengah cangkir energen untuk dibagikan kesemua anggota rekanya, dan masing-masing anggotanya mendapat satu teguk minuman, ini untuk merasakan rasanya berbagi meski sedikit tapi tetap bisa kebagiaan semuanya. Setelah selesai senam dan minum bersama kami pun disuruh kembali ketenda masing-masing untuk bersiap-siap mengikuti Upacara pagi dan kami pun langsung ganti baju dengan pakaian pramuka setelah selesai ganti baju kami pun disuruh makan, dan kemudian kami langsung berkumpul dilapangan untuk upacara pagi, dan upacara pun tidak berlangsung lama. Setelah selesai upacara kami kembali ketenda masing-masing dan beristrahat sebentar lalu gantu baju dengan baju hitam dan celana trening dan bersiap-siap untuk pergi penjelajahan.
Setelah istrahat dan setelah selesai siap-siap kami pun disuruh berkumpul lagi dilapangan untuk berangkat penjelajahan, dan keberangkatannya secara bergilir, Reka ku mendapat urutan ke 5, kami sangat senang dan bersemangat, dalam penjelajahan ini kami melewati beberapa pos dan disetiap pos sangat menantang dan menguji mental, fisik, kebersamaan, kekompakan kecerdasan dan kecerdikan. Di setiap pos kami banyak mendapatkan pengetahuan baru, keseruan, menemukan hal-hal lucu dan puji tuhan semua pos yang kami lalui dapat kami lewati dengan baik, dan pada akhirnya kami kembali keBuper dengan keadaan yang baik-baik saja. Hanya salah satu teman ku yang kehilangan nama cantiknya gara-gara dia tidak bisa menyebut nama bapak pandu pramuka Indonesia dengan benar, itu memang sangat lucu sekali, karena pertanyaan itu ditanyakan lebih dari 20 kali dan tidak bisa dia jawab dan akhirnya dia harus rela menyerahkan nama cantiknya.
Setelah penjelajahan selesai kami pun disuruh kembali ketenda untuk beristrahat dan setelah semua peserta kembali keBuper kami disuruh berkumpul kembali dilapangan dan disuruh mencari kayu untuk mendirikan api unggun dan kami pun pergi mencari kayu, setelah semua kayu terkumpul dan kami pun diarahkan untuk mandi dan kami pun pergi mandi dan membersihkan semua badan kami yang sudah sangat kotor kena lumpur, setelah mandi barulah terasa segar. Dan malam api unggun pun tiba kami semua bersiap untuk penampilan pensi, dan malam itu tidak akan pernah terlupakan karena semuanya begitu menyenangkan, ada yang bernyanyi, berjoget, main gitar dan setelah semua Reka selesai menampilkan pensinya kami pun disuruh kembali ketenda masing-masing untuk tidur dan malam itu terasa sangat nyaman untuk tidur tapi kami tidak bisa tidur karena memikirkan aka nada jurit malam dan setelah kurang lebih tidur satu jam tiba-tiba saya merasa ada yang membangunkan ku, dan ternyata itu adalah kakak Pembina, dan dia menyuruh Reka kami untuk berangkat jurit malam dan dengan mata yang masih ngantuk kami pun terbangun dan langsung berangkat karena tidak boleh berisik takut Reka-reka lain terbangun juga.
Kami pun mulai jurit malam dengan berpegang tangan dan hanya menggunakan lilin sebagai penerang, lalu setelah sampai kedepan ruangan yang harus kami masuki untuk mencari pita kami disuruh mematikan lilin dan masuk keruangan dengan keadaan gelap, dan temanku yang satunya sangat takut dan kami melihat kuntilanak bohongan dan setelah disuruh keluar kami pun keluar tergesa-gesa karena ketakutan dan aku tidak ada rasa takut karena tau itu kuntilanak bohongan. Dan setelah selesai kami disuruh berkumpul dilapangan basket dan kami pun berbaring dan tidur meski dingin dan banyak nyamuk kami tetap memaksakan diri untuk tidur karena sangat ngantuk.
Dan waktu tidak terasa berlalu setelah pagi kami pun senam dan kembali ketenda untuk masak dan makan serta siap-siap untuk baksos, gugur gunung (bongkar tenda), permainan rakyat dan upacara penutupan serta pembagian hadiah, dan setelah semuanya selesai kami pun pulang kembali kesintang. Dan disinilah saya dapat mengambil kesimpulan bagaimana supaya saya dapat hidup lebih mandiri dan hidup tanpa campur tangan orang tua serta dapat membina kerjasama dan persaudaraan antar sesama. Selain itu, saya belajar untuk menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, dan dapat mengembang kemampuan diri mengatasi tantangan hidup kedepannya. Ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan sampai kapanpun.
Selasa, 08 November 2016
BUKIT SARAN DAN KEBUDAYAAN SUKU DAYAK SEBERUANG KECAMATAN SEPAUK, KABUPATEN SINTANG
BUKIT SARAN, TEMPAT YANG HARUS DIKUNJUNGI PENDAKI DI KALIMANTAN BARAT
Libur akan segera tiba. Horeeeee. Dan mendadak suasana di
Jalan Pertamina Sengkuang Gang Manse akan segera
sunyi karena banyak mahasiswa yang pulang ke daerah masing-masing,
pulang kampung.
Libur ini aku pulang ke Pekulai
Bersatu Tempunak Hulu karena rindu kampung halaman ku. aku sangat rindu suasana di
kampung, rindu udaranya yang sejuk dengan pepohonan berdaun lebat yang
bisa ditemui di mana saja, rindu mandi di sungai yang airnya jernih dan
segar, main lempar batu dengan anak-anak kampung, menghabiskan hari-hari
di tengah alam tropis yang hijau dan menenangkan. Ditambah cuaca Sintang yang akhir-akhir ini tidak bisa ditebak,
kadang panas terik sampai takut keluar rumah, kadang cuaca adem ayem
tiba-tiba hujan lebat, membuat membosankan
saja berada disintang sekarang ini. Apa
lagi kalau melihat postingan teman-teman yang isinya liburan semua,
rasanya pengen cepat pulang kampung, ya bisalah mencari spot foto yang bagus
di tepian sungai Tempunak untuk diabadikan lalu di up load di instagram
(hahaha). Akhir-akhir ini wisata alam memang sedang diminati, hampir
semua foto di instagram teman-temanku berisi pemandangan wow tentang
wisata alam yang sepertinya memang harus dikunjungi di Kalimantan Barat.
Ada yang mendaki bukit, pergi ke air terjun, ada yang pergi ke pantai,
tiduran di pasir dan snorkeling. Semua foto yang diunggah sangat
mempesona dengan landscape yang indah.
Salah satu tempat yang membuatku terpesona adalah Bukit Saran, sebuah
bukit yang terletak di Desa Riam Batu, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang dan Desa
Riam Batu dapat ditempuh sekitar satu sampai dua jam saja dari kampung halaman
ku..
Salah seorang temanku mengunjungi tempat ini kemudian mengabadikannya,
dan hasil jepretannya benar-benar membuatku terpesona. Gila keren
banget membuat
aku tertantang ingin mendaki bukit saran.
BUKIT SARAN 1741 MDPL
Welcome to heaven. Untuk anak pecinta alam hutan lebat yang masih alami seperti ini adalah surga. Bukit Saran menyajikan panorama hutan tropis yang sangat alami karena memang belum terjamah oleh manusia-manusia bertangan kapitalis. Pohon-pohonnya tinggi, berdiri kokoh dengan cabang yang banyak dan dan berdaun lebat sehingga membentuk kanopi.
Nuansa hijau di mana-mana. Tidak hanya pada dedaunan tapi juga batang-batang dan akar pepohonan berwarna hijau karena ditumbuhi lumut.
Perjalanan menuju bukit Saran dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari
Desa Riam, sekitar 7-8 jam. Lumayan untuk olahraga kan. Yah namanya juga
mendaki. Hahaha. Sepanjang perjalanan akan sering dijumpai
sungai-sungai kecil seperti ini.
Untuk yang hobby makroan sebaiknya membawa lensa makro saat mendaki
bukit Saran karena dijamin pasti akan bertemu serangga-serangga kecil
atau kadal yang mungkin belum pernah ditemui sebelumnya. Seperti foto
kadal di bawah ini. Foto ini diambil dengan lensa sigma 17-70 karena
temanku tidak membawa lensa makro.
Setelah seharian menyusuri jalanan di tengah hutan maka sampailah di
puncak bukit Saran. Haaaa inilah dia. Seperti berada tiga meter di bawah
langit. Pohon-pohon seolah menyentuh awan. Beginilah hutan tropis di
atas bukit.
Beberapa
daerah di Kalimantan Barat menawarkan wisata alam yang tidak kalah
menarik dengan wisata alam di daerah luar. Hanya saja belum terekspose
karena memang masih sedikit yang menjajaki tempat-tempat menarik di
Kalbar. Bukit Saran adalah hiburan sekaligus tantangan, dengan berjalan
kaki 7-8 jam maka sensasi petualangannya benar-benar super. Meniti
batang kayu untuk menyebrangi sungai kecil sampai beristirahat di bawah
batu besar merupakan pengalaman menyatu bersama alam, temanku bilang
bahkan alam menyediakan rumah untuk kita. heee.
Dengan melihat foto-foto ekspedisi Bukit Saran dari temanku kerinduanku
akan suasana kampung yang hijau dan sejuk sedikit terobati.
Dan terimakasih Theofilus Irwan sudah berbagi cerita tentang
perjalanannya. Nah untuk teman-teman pecinta alam yang tertantang untuk
berpetualang silahkan menjelajahi bukit Saran, untuk teman-teman di
Kalbar yang pengen banget foto di puncak, hmmm udah deh nggak usah
jauh-jauh, pergi ke Desa Batu di Sintang aja deh, nikmati pemandangan
dari puncak bukit Saran. Semoga wisata alam Kalbar lainnya dapat kita
nikmati seperti ini juga ya. Tidak hanya dinikmati oleh pengunjungnya
tapi oleh teman-teman yang belum pergi ke sana, jadi siapkan kamera dan
berpetualanglah agar bisa mendapat pengalaman
menarik dan foto pemandangan yang indah dan menarik.
Kebudayaan Suku Dayak Seberuang Kacamatan Sepauk, Kabupaten Sintang
1.
Asal Usul Sub Suku Dayak Seberuang
Dayak Seberuang adalah sekelompok masyarakat Dayak yang bermukim di
sepanjang Sungai Seberuang bagian hulu dan juga di jalan provinsi lintas
selatan yang menghubungkan Kecamatan Semitau dengan Ibukota Kapuas
Hulu. Secara geografis pemukiman kelompok ini membaur dengan kelompok
Dayak Suaid dan juga Kantu Oleh karena itu, sulit membedakan
batas geografis penyebaran subsuku ini.Dayak Seberuang menurut catatan J. U.
Lontaan (1975:61) merupakan salah satu dari 61 kekeluargaan dalam kelompok
Dayak Ot Danum.
Seberuang merupakan nama sungai yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Ketika
masih di Kapuas Hulu, orang Seberuang berkampung di Beluis, Ranyai, Sayur,
Sebalang, Sungai Antu, dan Bekuan.Cerita tentang asal-usul orang Seberuang yang
dituturkan adalah mereka berasal dari Lendau Mungguk Ara. Di sana mereka
terkena wabah penyakit sehingga mereka pindah ke Tampun Juah. Namun, di Tampun
Juah pun mereka mendapat cobaan dari orang Kana Maen. Orang Kana Maen membuat
bana tai ile sehingga di mana-mana ada tahi. Mereka tidak tahan dan pindah ke
Nanga Senentang yang sekarang adalah Sintang. Mereka pindah ke Sintang dengan
membawa pusaka Tedung Kepung, Bujang Tanjung, dan Segintar Alam. Ketiga pusaka
itu disebut dengan Meriam Pejanji. Dari Sintang, dengan dipimpin Tuak Laja
mereka pindah ke Tembawang Beruang. Sekarang, tembawangitu masih ada,
yaitu berupa sebuah bukit.
Tiga anak Tuak Laja itu adalah Temenggung Cukah, Temenggung Caling, dan
Temenggung Merebai. Yang menurunkan orang Seberuang di Mensiap Tanjung itu
adalah keturunan Temenggung Cukah. Temenggung Cukah beranakkan Andau, Andau
beranakkan Lansi. Lansi beranakkan Raja Nangga. Raja Nangga inilah yang membuka
Mensiap Tanjung. Sebelum Raja Nangga, ada orang Cina, yaitu Bun Siap. Cina itu
dibunuh, sehingga nama kampung kami ini disebut Kampung Siap. Dari Raja Nangga
ini menurunkan Selung. Selung beranakkan Bumbung. Bumbung beranakkan Nanggung.
Nanggung beranakkan Demang Ria. Demang Ria beranakkan Demang Julung. Demang
Julung beranakkan Mangai. Lalu, Mangai beranakkan Enau.Temenggung Merebai mudik
Sungai Tempunak. Sementara itu, Temenggung Caling menurunkan orang-orang yang
ada di sebelah kanan Sungai Kapuas. Di Kabupaten Sintang ini, orang Seberuang
ada di Kecamatan Sepauk, yaitu di Desa Sekubang yang kampungnya adalah
Taja, Bangun, Pemunsit, dan Lebong Beruang. Di Desa Nanga Pari kampungnya
adalah Sungai Lepat, Ngalang, Geruda, Silit, Sungai Segak, Pampuk Puai, dan
Pari. Di Desa Lengkenat ada Kampung Gernis Jaya/Gerantung, Paoh Benoa. Di Desa
Temiang Kapuas kampungnya adalah Temiang, Mirah Air, Sukai Hilir, Sukau Hulu,
dan Sungai Adau. Di Desa Ensabang kampungnya adalah Ensabang, Sungai Jaung,
Sungai Tamang, Tanah Kaya, dan Pringanyang.
Di Kecamatan Tempunak, orang Seberuang tinggal di Desa Balai Harapan
yang kampungnya adalah Balai Harapan atau dulu disebut Balai Gana. Di Desa
Benua Kencara kampungnya adalah Lebuk Hulu, Lebuk Hilir, Lanjau Mulas, Benua
Kencana, Jungkang, Ansak. Di Desa Gurung Mali kampungnya adalah Tumbak, Arai,
Serpang, Sungai Belatuk, Sungai Buaya, Sungai Buluh, Penyarak, dan Nanga
Jengkuat. Di Desa Mensiap Baru yang dulu disebut Mensiap Hulu kampungnya adalah
Mensiap Hilir dan Mensiap Hulu. Di Desa Merti Jaya kampungnya adalah Pekulai
Hilir, Pekulai Hulu, Mansik, dan Remiang. Di Desa Nanga Tempunak kampungnya
adalah Lebah Satu dan Empat Dua. Di Desa Tanjung Perada kampungnya adalah
Mensiap Tanjung, Kantuk Hulu, dan Peninjau. Di Desa Palau Jaya kampungnya
adalah Melimbok, Janang, Palau Mandong, dan Kempas. Seperti yang kita ketahui
sebagai suku dayak seberuang ada memiliki cerita tentang kisah penciptaan
adapun ceritanya adalah sebagai berikut ini
Penciptaan Alam Semesta seperti yang kita
ketahui bersama Pada mulanya alam semesta ini hampa. Yang ada hanya
Seutang-utang Sapung-apung, yang terapung-apung dan melayang-layang ke sana ke
mari di angkasa raya. Setelah Seutang-utang, kemudian hiduplah Kilat Nempi dan
Guntur Nempi. Kemudian hiduplah seorang manusia, nama orang itu
adalah Nyuk. Nyuk lahir dari tetesan embun yang dalam
istilahnya jatuk ri trutuk ujang sayang.
Nyuk
tinggal di Khayangan atau negeri Awan karena pada saat itu bbelum ada tanah
sebagai tempat tinggal. Nyuk terkena penyakit bisul pada paha kiri dan paha
kanannya. Anehnya setelah bisul pecah, keluarlah manusia. Yang sebelah kanan
keluar manusia laki-laki dan yang sebelah kiri keluar manusia perempuan. Lalu
manusia laki-laki itu diberi nama Pukat Bengawan, sedangkan yang perempuan
diberi nama Sabung Mengulur. Pukat Bengawan dan Sabung Mengulur kemudian
menikah. Mereka mempunyai tujuh orang anak yaitu Adapun nama nama anak pukat bengawan dan sabung mangulur adalah sebagai
berikut ini yang pertama diberi nama Puyang Gana kedua ,Suluh Dai, ketiga Belang
Pinggang ke empat Gentang Temanai, kelima Bukuk Labuk, ke enam Buinasi dan yang
ke tujuh Putung Kempat / Putung Pandak
Puyang
Gana lahir dengan bentuk yang sangat aneh. Badannya seperti buah Labu tidak
punya tangan dan kami. Dia berjalan dengan cara menggelinding seperti
bola. Pada suatu hari, setelah dewasa, Puyang Gana memasang belantik.
Belum beberapa lama dipasang, belantik itu pun mengena seekor landak. Landak
itu tidak langsung mati tetapi masih bisa lari dengan meninggalkan tetesan
darah di sepanjang jalan yang ia lewati.Puyang Gana pun berjalan mengikuti
tetesan darah yang ditinggalkan oleh landak itu. Tanpa terasa, ia sudah
berjalan cukup jauh. Tetesan darah itu terus masuk ke dalam sebuah gua. Tanpa
peduli, Puyang Gana pun terus mengikutinya dan masuk ke dalam gua. Suasana di dalam
gua terang-benderang. Ia melihat ada rumah orang dan tetesan darah tersebut
sampai ke dalam rumah. Tanpa pikir panjang, Puyang Gana pun mendekati tumah
itu.Tuan rumah yang sedari tadi sudah melihat ada orang yang mendekati
rumahnya langsung menyapa, Ada perlu apa ke sini..?Saya mengikuti tetesan darah
landak yang kena belantik saya, jawab Puyang Gana. Silahkan masuk, kata si pemilik rumah. Setelah dipersilahkan
duduk, tuan rummah itu menanggapi cerita Puyang Gana. "Kalau itu yang Tuan
cari, dia ada di dapur, itu kucing kami, jawab tuan rumah. Ternyata tuan rumah
itu bernama Raja Sua. Raja Sua mempunyai anak gadis bernama Dayang Rejak.
Alkisah, Puyang Gana pun menikah dengan Dayang Rejak.Sementara, di rumah orang
tua Puyang Gana, lahirlah adik mereka yang nomor enam. Anak ini juga aneh
karena dimulutnya membawa sekepal nasi . Karena itu, ia diberi nama
Buinasi.Setelah beberapa tinggal dirumah mertuanya, Puyang Gana pun pulang
dengan maksud untuk meminta bagian harta. Tapi malang nasib Puyang Gana karena
adik-adiknya tidak mengenal dia karena Puyang Gana sudah berubah tidak seperti
dulu lagi. Raja Sua sudah mengubah bentuk Puyang gana. Sekarang ia sudah
mempunyai tangan dan kaki seperti manusia biasa. Tapi Puyang Gana masih aneh
dari orang kebanyakan karena punggungnya tumbuh rajang (sejenis anggrek hutan).
Adik-adiknya
tidak mau membagi harta kepada Puyang Gana. Mereka berkata, Kamu bukan abang
kami, kami tidak mempunyai abang seperti kamu.Lalu salah satu dari mereka
melempar sebongkah tanah dapur kepada Puyang Gana sambil berkata, "Ini
bagianmu, ambillahTerima kasih, ini lebih dari cukup, jawab Puyang Gana dengan
raut muka sedih.Setelah itu ia pun pulang. Supaya tanah itu menjadi
sempurna, ia memanggil kawannya, yaitu Segugah untuk menempa tanah. Dialah
ahlinya. Setelah tanah itu ditempa, kemudian Puyang gana memanggil Segugit
untuk menempa langit. Ia juga memanggil Segentu untuk menempa kayu. Setelah
itu, sempurnalah alam semesta ini sebagai tempat tinggal manusia.Sementara itu,
di rumah orang tuanya, Buinasi menangis terus minta nasi karena nasi yang ada
di mulutnya sudah habis. Maka dengan terpaksa, bapak mereka meleburkan diri
menjadi segala macam bibit tanaman yang lain. Sedangkan Ibu mereka masuk ke
dalam tanah dan menjadi emas. Agar bisa menghasilkan beras maka mereka sepakat
untuk membuat ladang.
Mulailah
mereka menebas tujuh buah bukit dan tujuh lembah. Setelah dirasa cukup, mereka
berhenti dan pulang ke rumah untuk istirahat. Keesokan harinya, mereka pergi
lagi melihat ladang. Tetapi alangkah terkejutnya mereka karena kayu-kayu yang
telah ditebang kemarin berdiri lagi. Walaupun demikian, mereka tidak jera.
Mereka pun mulai menebas dan menebangnya kebali. Seperti kemarin, setelah
mereka merasa cukup, mereka pun pulang. Esok harinya, mereka pergi lagi. Untuk
yang kedua kalinya mereka terkejut lagi karena peristiwa kemarin terulang
kembali.Peristiwa ini terus terulang sampai tujuh kali dan akhirnya mereka
tidak tahan. Mereka sepakat bahwa ladang harus ditunggu untuk melihat apa yang
sebenarnya terjadi. Mereka menunjuk Buinasi untuk mengunggu ladang sedangkan
yang lain pulang ke rumah. Buinasi bersiap-siap menyaksikan apa sebenarnya yang
terjadi. Setelah tihari menunggu, buinasi tidak melihat apa-apa. Akhirnya pada
hari keempat, sore hari menjelang malam, tiba-tiba Buinasi terkejut
melihat sesosok orang yang datang masuk ke ladang mereka. Orang itu
kelihatan aneh. Badannya tinggi besar, bertongkatkan pohon mawang (buah asam
hutan), baju renyu (lebah hutan), ikat pinggangnya ular sawah pendek, tombaknya
seekor buaya, di belakangnnya ditumbuhi rajang (anggrek hutan). Tampangnya
sangat menyeramkan. Orang itu berseru dengan suara lantang, "Ngas merangas
berdiri segala raras, maka berdirilah semua kayu yang sudah mereka tebang dan
menjadi hutan kembali.
Buinasi
yang dari tadi memperhatikan segala kejadian dari jauh mulai beranjak mendekati
Puyang Gana. Dengan geram ia berkata, Hai... Siapa kamu...? Ternyata kamu yang
melakukan ini semua. Kami dengan susah payah menebang hutan ini, Kamu malah
mengembalikan hutan ini seperti semula. Apa sebenarnya maksud kamu ? kata
Buinasi. Orang aneh itu pun menjawab, Nama
saya Puyang Gana, tanah ini milik saya. Tidak boleh orang lain
menggunakan tanah ini tanpa izin dari saya, katanya.Mendengar itu, mengertilah
Buinasi mengapa selama ini mereka selalu gagal membuat ladang. Tapi Buinasi
penasaran, dan bertanya, Bagaimana Kamu bisa mengatakan bahwa tanah ini milikmu
Begini ceritanya, kata Puyang Gana, Pada waktu itu saya datang meminta bagian
warisan kepada kalian, kalian hanya memberi saya tanah dapur. Inilah tanah
dapur yang kalian berikan kepada saya dulu. Ternyata Puyang gana tahu bahwa
mereka itu adalah adik-adiknya.
Buinasi
kembali bertanya, Jadi bagaimana kalau kami mau membuat ladang di sini..? Kalian
harus minta kepada saya dengan membawa persembahan, yaitu padi tujuh tibang
(nama tempat penyimpan padi), beras tujuh bening (tempayan), babi tujuh
kandang, ayam tujuh gelanggang (kandang), besi tujuh rumang (batang), cucuk
belantuk tawang, rimpik salai seluang, panggang manuk denang. Selain itu
ditambah lagi jenis kue, yaitu tepung atau tumpik (sejenis cucur), kelamai
(tepung beras dibuat bulat-bulat dimasak dengan air santan dan dicampur gula),
sagun (tepung beras digonseng dan diberi kelapa dan gula). Wah kalau begitu
kami tidak mampu, terlalu berat bagi kami, kata Buinasi. Tidak berat, kata
Puyang Gana. Itu hanya syarat saja, tidak perlu yang sebenarnya, buat saja yang
kecil-kecil sebagai lambang. Kalau sudah sampai ke kami, itu banyak, jawab
Puyang gana. Setelah mendengar itu, Buinasi pun pulang dan menceritakan
semua kejadian yang ia alami kepada saudaranya.
Berdasarkan
cerita inilah maka setiap masyarakat Seberuang ketika hendak membuat ladang
harus meminta tanah kepada Puyang Gana karena ialah yang mempunya tanah
dan alam semesta ini.Menurut cerita, dari ketujuh kakak beradik ini sehingga
alam semesta ini menjadi sempurna. Puyang Gana menjadi makhluk halus. Suluh Dai
dan Gentang Temanai menjadi segala binatang, Bukuk Labuk menjadi segala macam
bibit tanaman sama dengan ayah mereka. Belang Pinggang menurunkan orang-orang
Barat, Buinasi menurunkan orang Dayak sedangkan Putung Kempat menurunkan
orang-orang Melayu.
Berbicara
tentang sistem- sistem yang terdapat dalam ruang lingkup masyrakat suku dayak
seberuang adalah sebagai berikut :
A.
Sistem
Bahasa
Dalam kehidupan
sehari-hari masyrakat seberuang pada umumnya menggunakan bahasa dayak seberuang
untuk menjalin komunikasi antar sesama. bahasa dayak seberuang sangat mudah
dimengerti oleh masyrakat lain karena, sistem bahasanya tidak terlalu jauh dari
bahasa indonesia dan hal ini terbukti karena banyak masyrakat di luar suku
dayak seberuang yang dapat dengan mudah memahami setiap perkataan dan bahasa
dayak seberuang adapun bahasa dayak seberuang jika diartikan dengan bahasa
indonesia adalah sebagai berikut :
Bahasa Indonesia
|
Bahasa Dayak Seberuang
|
Mandi
|
Manik
|
Makan
|
Makai
|
Berjalan
|
Bejalai
|
Tidur
|
Tinuk
|
Mau kemana
|
Kak kini
|
Kecil
|
Mit
|
Laki- laki
|
Meh
|
Perempuan
|
Dik
|
Sebenarnya masih
banyak lagi bahasa dayak seberunag dan pada dasarnya bahasa seperti inilah yang
sering di gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
B.
Kesenian
Seperti
sub suku lainnya sub suku dayak seberuang juga memiliki kesenian yang
diwariskan secara turun temurun salah satunya adalah Tari-tarian, bepantun,
Egkana ( berkisah dari mulut kemulut ), dan bemain ( bersayir ) dan kebanyakan
yang sering dilakukan oleh masyrakat suku dayak seberuang adalah tari – tarian
mengingat setiap acara adat pasti kerap kali disertai dengan tari-tarian
bepantun dan bemain ( bersayir ) ini pun sering dilakukan terutama dalam acara
pesta pernikahan sedangkan engkana ( cerita dari mulut kemulut ) hanya
dilakukan oleh orang tua kepada anaknya ketika ingin menidurkan anak-anaknya
dan tujuan dari melakukan hal tersebut tentu agar suatu saat kelak anak-anak
masih mampu mengetahui dan mengingat segala budaya terutama budaya dari nenek moyang
yang mereka jalani sampai saat ini.
C.
Mata
Pencarian
Sistem
mata pencarian dari suku dayak seberuang adalah petani terutama petani karet
tetapi seiring berjalannya waktu banyak orang yang mulai beralih mata pencarian
ke perkebunan sawit, dansuku dayak seberuang sama seperti suku-suku dayak
lainya mereka juga terkenal dengan berladang berpindah-pindah dari satu tempat
ke tempat lainnya tentu saja hal ini dilakukan untuk mampu mendapatkan hasil
yang maksimal sesuai dengan harapan yang diinginkan.
D.
Kepercayaan
Sistem
kepercayaan suku dayak seberuang pada umumnya adalah percaya akan Tuhan yang
mana sebagai penyelenggara hidup dan pemberi hidup ini. Seperti yang kita
ketahui, pada umumnya suku dayak seberuang pada saat ini memiliki sistem
kepercayaan Katolik. Dan kebanyakan dari suku dayak seberuang beragama katolik
sehingga kebudayaan juga dipengaruhi oleh agama katolik misalnya dalam gawai
adat biasanya sebelum dibuka dengan acara adat kerap kali dilaksanakan doa
menurut agama katolik.
E.
Ilmu
pengetahuan
Sistem
ini terus berkembang dari tahun- ketahun hal ini terbukti dengan banyaknya
anak-anak dari masyrakat dayak seberuang yang telah mengenyam pendidikan bahkan
ada yang sudah mampu menamatkan diri sampai keperguruan tinggi. Tentu saja hal
ini sangat mempengaruhi dari sistem pengetahuan terutama Sumber daya manusia (
SDM ) dan hal hal yang berkaitan dengan kehidupan di hutan pun perlahan-lahan
mulai ditinggalkan terutama hal berburu binatang faktor pertama tent saja
karena tidak ada lagi binatang buruan.
F.
Sistem
Sosial
Dari
zaman nenek moyang sampai sekarang sistem sosial masyrakat suku dayak seberuang
terus bertahan salah satunya adalah sistem sosial yang tidak pernah hilang
adalah tolong menolong hal ini diberikan kepada semua orang. Tampa memandang
setatusnya karena inilah yang mampu memprsatukan dan menciptkan rasa
kekeluargaan yang kuat terhadap orang lain.
G.
Teknologi
Jika
zaman dahulu masyrakat dari suku dayak seberunag masih menggunakan surat
sebagai media dalam menyampaikan informasi, kini mulai perlahan-lahan
ditinggalkan dan mulai berubah serta mengikuti
perkembangan zaman yang terus berkembang dan menawarkan kemudahan-kemudahan
misalnya dalam hal berkomunikasi sekarang ini suku dayak seberuang mulai
menggunakan henpone ( Hp ) karena dinilai sangat mudah menyampaikan informasi
dan informasi yang disampaipun sangat cepat untuk disampaikan kepada orang
lain.
2.
Mengenal
tradisi adat yang masih terus dilestarikan
Adapun
Ritual- ritual adat yang masih sering dilaksanakan di sub suku seberuang adalah
- Pesta memandikan anak
kesungai
Pada
umumnya setiap orang akan mengalami dan merasakan bagaimana hidup berkeluarga
terkeculi mereka yang memang terpilih menjadi pelayan- pelayan pastoral karena kaul
yang mereka ucapkan mereka adapun mereka adalah para imam, suster dan bruder atau lebih
dikenal dengan kaum tertabis. Sebagai seorang umat awam yang biasanya tinggal
dalam lingkungan kebudayaan tentu saja akan mengalami hal yang namanya
berkeluarga termasuk mendidik dan membesarkan anak.dalam tradisi kebudayaan
adat dayak seberuang ketika seseorang telah memiliki anak terutama anak yang
baru lahir yang berumur 1 tahun sudah bisa dilaksanakan pesta memandikan
anaknya kesungai dalam pesta permandian anak kesungai ini pertama tama yang
dilakukan adalah bagaimana sebelum memandikan anak kesungai dilaksanakan doa
bersama dan biasanya dalam doa itu dipimpin oleh ketua umat atau petugas
pastoral yang berada di tempat itu.
Setelah
doa selesai dilaksanakan baru lah proses adat dilaksanakan yaitu dengan acara
adat dalam proses pelaksanaan adat itu adapun alat-alat yang dipersiapkan dalam
proses adat adalah Gong, senapan laras panjang, kain yang digunakan untuk
mengendong anak, sesajian yang disiapkan oleh tua rumah dalam proses pesta
tersebut seperti Tumpik ( tepung yang dibuat menyerupai jempol ) , hati ayam,
kepala ayam, dan daging ayam yang di bawa ketempat talaman atau sejenis tempat
yang digunakan untuk proses penyimpanan sesajian tersebut. Dan biasanya acara
adat itu sendiri dipimpin oleh ketua adat atau digantikan oleh orang tua yang
memang bisa menyebutkan atau membacakan mantera adat tersebut.
Adapun
proses dari adat itu adalah sebagai berikut ini
setelah pemimpin umat selesai berdoa dirumah orang yang melaksanakan
pesta permandian anak kesungai, mulailah selanjutnya dilanjutkan dengan upacara
adat dan yang harus pembaca ketahui yang nantinya membawa anak kesungai
bukanlah ibu atau bapak dari anak tersebut melainkan orang lain atau bisa lebih
tepatnya saudara dari ayah dan ibunya. ketika anak tersebut dibawa turun dari tangga
atau berangkat dari rumah hal pertama yang harus dilakukan adalah membunyikan
Gong dan biasanya anak dan pembawa anak itu berdiri di barisan yang paling
depan dan didepan anak itu ada pembaca mantera adat tersebut. setelah semua
arak-arakan dan rombongan anak yang ingin dimandikan tiba di sungai biasanya
pemipin adat tersebut mulai membacakan mantera di sungai sambil membuang
sesajian yang tadinya dibawa dan disiapkan oleh tuan rumah seperti tumpik
sejenis tepung yang dibuat menyerupai jempol kaki,hati ayam,daging ayam,dan
kepala ayam.setelah sesajian itu selesai di taburkan kesungai dan mantera itu
selesai dibacakan maka mulailah ketua adat memanggil orang yang mengendong anak
itu dan menyuruh orang itu untuk membawa anak kecil itu kepadanya. Selanjutnya
iapun mencelupkan anak itu kesungai sementara dari masyrakat ada yang menembak
menggunakan senapan raras panjang ke langit sebanyak tiga kali yang menandakan
anak itu sudah dimandikan ke sungai. Setelah bunyi senapan tiga kali artinya
anak itu sudah selesai dan diangkat dari sungai itu.
Adapun tujuan dari dilakukannya adat ini adalah menandakan bahwa anak itu untuk pertama kalinya dibawa mandi kesungai dan harapannya supaya kelak ketika anak itu sudah bisa mandi kesungai dengan sendirinya, anak itu tidak diganggu oleh setan yang ada disungai sehingga nanti ketika ia mandi dapat dengan tenang dan pulang dengan selamat ke rumahnya. dan adat inilah yang masih terus dilestarikan sampai pada saat ini dan biasanya dalam pesta mandi kesungai ini acaranya sangat meriah dan banyak orang- orang kampung yang ambil bagian dalam acara tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)







