Selasa, 08 November 2016

BUKIT SARAN DAN KEBUDAYAAN SUKU DAYAK SEBERUANG KECAMATAN SEPAUK, KABUPATEN SINTANG




BUKIT SARAN, TEMPAT YANG HARUS DIKUNJUNGI PENDAKI DI KALIMANTAN BARAT




 
Libur akan segera tiba. Horeeeee. Dan mendadak suasana di Jalan Pertamina Sengkuang Gang Manse akan segera  sunyi karena banyak mahasiswa yang pulang ke daerah masing-masing, pulang kampung. 

Libur ini aku pulang ke Pekulai Bersatu Tempunak Hulu karena rindu kampung halaman ku.  aku sangat rindu suasana di kampung, rindu udaranya yang sejuk dengan pepohonan berdaun lebat yang bisa ditemui di mana saja, rindu mandi di sungai yang airnya jernih dan segar, main lempar batu dengan anak-anak kampung, menghabiskan hari-hari di tengah alam tropis yang hijau dan menenangkan. Ditambah cuaca Sintang yang akhir-akhir ini tidak bisa ditebak, kadang panas terik sampai takut keluar rumah, kadang cuaca adem ayem tiba-tiba hujan lebat, membuat membosankan saja berada disintang sekarang ini. Apa lagi kalau melihat postingan teman-teman yang isinya liburan semua, rasanya pengen cepat pulang kampung, ya bisalah mencari spot foto yang bagus di tepian sungai Tempunak untuk diabadikan lalu di up load di instagram (hahaha). Akhir-akhir ini wisata alam memang sedang diminati, hampir semua foto di instagram teman-temanku berisi pemandangan wow tentang wisata alam yang sepertinya memang harus dikunjungi di Kalimantan Barat. Ada yang mendaki bukit, pergi ke air terjun, ada yang pergi ke pantai, tiduran di pasir dan snorkeling. Semua foto yang diunggah sangat mempesona dengan landscape yang indah.

Salah satu tempat yang membuatku terpesona adalah Bukit Saran, sebuah bukit yang terletak di Desa Riam Batu, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang dan Desa Riam Batu dapat ditempuh sekitar satu sampai dua jam saja dari kampung halaman ku.. Salah seorang temanku mengunjungi tempat ini kemudian mengabadikannya, dan hasil jepretannya benar-benar membuatku terpesona. Gila keren banget membuat aku tertantang ingin mendaki bukit saran.



BUKIT SARAN 1741 MDPL





Welcome to heaven. Untuk anak pecinta alam hutan lebat yang masih alami seperti ini adalah surga. Bukit Saran menyajikan panorama hutan tropis yang sangat alami karena memang belum terjamah oleh manusia-manusia bertangan kapitalis. Pohon-pohonnya tinggi, berdiri kokoh dengan cabang yang banyak dan dan berdaun lebat sehingga membentuk kanopi.
Nuansa hijau di mana-mana. Tidak hanya pada dedaunan tapi juga batang-batang dan akar pepohonan berwarna hijau karena ditumbuhi lumut.



Perjalanan menuju bukit Saran dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Desa Riam, sekitar 7-8 jam. Lumayan untuk olahraga kan. Yah namanya juga mendaki. Hahaha. Sepanjang perjalanan akan sering dijumpai sungai-sungai kecil seperti ini.


Untuk yang hobby makroan sebaiknya membawa lensa makro saat mendaki bukit Saran karena dijamin pasti akan bertemu serangga-serangga kecil atau kadal yang mungkin belum pernah ditemui sebelumnya. Seperti foto kadal di bawah ini. Foto ini diambil dengan lensa sigma 17-70 karena temanku tidak membawa lensa makro.



Setelah seharian menyusuri jalanan di tengah hutan maka sampailah di puncak bukit Saran. Haaaa inilah dia. Seperti berada tiga meter di bawah langit. Pohon-pohon seolah menyentuh awan. Beginilah hutan tropis di atas bukit.






 

Beberapa daerah di Kalimantan Barat menawarkan wisata alam yang tidak kalah menarik dengan wisata alam di daerah luar. Hanya saja belum terekspose karena memang masih sedikit yang menjajaki tempat-tempat menarik di Kalbar. Bukit Saran adalah hiburan sekaligus tantangan, dengan berjalan kaki 7-8 jam maka sensasi petualangannya benar-benar super. Meniti batang kayu untuk menyebrangi sungai kecil sampai beristirahat di bawah batu besar merupakan pengalaman menyatu bersama alam, temanku bilang bahkan alam menyediakan rumah untuk kita. heee.

Dengan melihat foto-foto ekspedisi Bukit Saran dari temanku kerinduanku akan suasana kampung yang hijau dan sejuk sedikit terobati. 

Dan terimakasih Theofilus Irwan sudah berbagi cerita tentang perjalanannya. Nah untuk teman-teman pecinta alam yang tertantang untuk berpetualang silahkan menjelajahi bukit Saran, untuk teman-teman di Kalbar yang pengen banget foto di puncak, hmmm udah deh nggak usah jauh-jauh, pergi ke Desa Batu di Sintang aja deh, nikmati pemandangan dari puncak bukit Saran. Semoga wisata alam Kalbar lainnya dapat kita nikmati seperti ini juga ya. Tidak hanya dinikmati oleh pengunjungnya tapi oleh teman-teman yang belum pergi ke sana, jadi siapkan kamera dan berpetualanglah agar bisa mendapat pengalaman menarik dan foto pemandangan yang indah dan menarik. 

Kebudayaan Suku Dayak Seberuang Kacamatan Sepauk, Kabupaten Sintang



1.      Asal Usul Sub Suku Dayak Seberuang

Dayak Seberuang adalah sekelompok masyarakat Dayak yang bermukim di sepanjang Sungai Seberuang bagian hulu dan juga di jalan provinsi lintas selatan yang menghubungkan Kecamatan Semitau dengan Ibukota Kapuas Hulu. Secara geografis pemukiman kelompok ini membaur dengan kelompok Dayak Suaid dan juga Kantu Oleh karena itu, sulit membedakan batas geografis penyebaran subsuku ini.Dayak Seberuang menurut catatan J. U. Lontaan (1975:61) merupakan salah satu dari 61 kekeluargaan dalam kelompok Dayak Ot Danum.

Seberuang merupakan nama sungai yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Ketika masih di Kapuas Hulu, orang Seberuang berkampung di Beluis, Ranyai, Sayur, Sebalang, Sungai Antu, dan Bekuan.Cerita tentang asal-usul orang Seberuang yang dituturkan adalah mereka berasal dari Lendau Mungguk Ara. Di sana mereka terkena wabah penyakit sehingga mereka pindah ke Tampun Juah. Namun, di Tampun Juah pun mereka mendapat cobaan dari orang Kana Maen. Orang Kana Maen membuat bana tai ile sehingga di mana-mana ada tahi. Mereka tidak tahan dan pindah ke Nanga Senentang yang sekarang adalah Sintang. Mereka pindah ke Sintang dengan membawa pusaka Tedung Kepung, Bujang Tanjung, dan Segintar Alam. Ketiga pusaka itu disebut dengan Meriam Pejanji. Dari Sintang, dengan dipimpin Tuak Laja mereka pindah ke Tembawang Beruang. Sekarang, tembawangitu masih ada, yaitu berupa sebuah bukit.

Tiga anak Tuak Laja itu adalah Temenggung Cukah, Temenggung Caling, dan Temenggung Merebai. Yang menurunkan orang Seberuang di Mensiap Tanjung itu adalah keturunan Temenggung Cukah. Temenggung Cukah beranakkan Andau, Andau beranakkan Lansi. Lansi beranakkan Raja Nangga. Raja Nangga inilah yang membuka Mensiap Tanjung. Sebelum Raja Nangga, ada orang Cina, yaitu Bun Siap. Cina itu dibunuh, sehingga nama kampung kami ini disebut Kampung Siap. Dari Raja Nangga ini menurunkan Selung. Selung beranakkan Bumbung. Bumbung beranakkan Nanggung. Nanggung beranakkan Demang Ria. Demang Ria beranakkan Demang Julung. Demang Julung beranakkan Mangai. Lalu, Mangai beranakkan Enau.Temenggung Merebai mudik Sungai Tempunak. Sementara itu, Temenggung Caling menurunkan orang-orang yang ada di sebelah kanan Sungai Kapuas. Di Kabupaten Sintang ini, orang Seberuang ada di Kecamatan Sepauk, yaitu di Desa Sekubang yang kampungnya adalah Taja, Bangun, Pemunsit, dan Lebong Beruang. Di Desa Nanga Pari kampungnya adalah Sungai Lepat, Ngalang, Geruda, Silit, Sungai Segak, Pampuk Puai, dan Pari. Di Desa Lengkenat ada Kampung Gernis Jaya/Gerantung, Paoh Benoa. Di Desa Temiang Kapuas kampungnya adalah Temiang, Mirah Air, Sukai Hilir, Sukau Hulu, dan Sungai Adau. Di Desa Ensabang kampungnya adalah Ensabang, Sungai Jaung, Sungai Tamang, Tanah Kaya, dan Pringanyang.

Di Kecamatan Tempunak, orang Seberuang tinggal di Desa Balai Harapan yang kampungnya adalah Balai Harapan atau dulu disebut Balai Gana. Di Desa Benua Kencara kampungnya adalah Lebuk Hulu, Lebuk Hilir, Lanjau Mulas, Benua Kencana, Jungkang, Ansak. Di Desa Gurung Mali kampungnya adalah Tumbak, Arai, Serpang, Sungai Belatuk, Sungai Buaya, Sungai Buluh, Penyarak, dan Nanga Jengkuat. Di Desa Mensiap Baru yang dulu disebut Mensiap Hulu kampungnya adalah Mensiap Hilir dan Mensiap Hulu. Di Desa Merti Jaya kampungnya adalah Pekulai Hilir, Pekulai Hulu, Mansik, dan Remiang. Di Desa Nanga Tempunak kampungnya adalah Lebah Satu dan Empat Dua. Di Desa Tanjung Perada kampungnya adalah Mensiap Tanjung, Kantuk Hulu, dan Peninjau. Di Desa Palau Jaya kampungnya adalah Melimbok, Janang, Palau Mandong, dan Kempas. Seperti yang kita ketahui sebagai suku dayak seberuang ada memiliki cerita tentang kisah penciptaan adapun ceritanya adalah sebagai berikut ini

 Penciptaan Alam Semesta seperti yang kita ketahui bersama Pada mulanya alam semesta ini hampa. Yang ada hanya Seutang-utang Sapung-apung, yang terapung-apung dan melayang-layang ke sana ke mari di angkasa raya. Setelah Seutang-utang, kemudian hiduplah Kilat Nempi dan Guntur Nempi. Kemudian hiduplah seorang manusia, nama orang itu adalah Nyuk. Nyuk lahir dari tetesan embun yang dalam istilahnya jatuk ri trutuk ujang sayang.

Nyuk tinggal di Khayangan atau negeri Awan karena pada saat itu bbelum ada tanah sebagai tempat tinggal. Nyuk terkena penyakit bisul pada paha kiri dan paha kanannya. Anehnya setelah bisul pecah, keluarlah manusia. Yang sebelah kanan keluar manusia laki-laki dan yang sebelah kiri keluar manusia perempuan. Lalu manusia laki-laki itu diberi nama Pukat Bengawan, sedangkan yang perempuan diberi nama Sabung Mengulur. Pukat Bengawan dan Sabung Mengulur kemudian menikah. Mereka mempunyai tujuh orang anak yaitu  Adapun nama nama anak pukat  bengawan dan sabung mangulur adalah sebagai berikut ini yang pertama diberi nama Puyang Gana kedua ,Suluh Dai, ketiga Belang Pinggang ke empat Gentang Temanai, kelima Bukuk Labuk, ke enam Buinasi dan yang ke tujuh Putung Kempat / Putung Pandak

Puyang Gana lahir dengan bentuk yang sangat aneh. Badannya seperti buah Labu tidak punya tangan dan kami. Dia berjalan dengan cara menggelinding seperti bola. Pada suatu hari, setelah dewasa, Puyang Gana memasang belantik. Belum beberapa lama dipasang, belantik itu pun mengena seekor landak. Landak itu tidak langsung mati tetapi masih bisa lari dengan meninggalkan tetesan darah di sepanjang jalan yang ia lewati.Puyang Gana pun berjalan mengikuti tetesan darah yang ditinggalkan oleh landak itu. Tanpa terasa, ia sudah berjalan cukup jauh. Tetesan darah itu terus masuk ke dalam sebuah gua. Tanpa peduli, Puyang Gana pun terus mengikutinya dan masuk ke dalam gua. Suasana di dalam gua terang-benderang. Ia melihat ada rumah orang dan tetesan darah tersebut sampai ke dalam rumah. Tanpa pikir panjang, Puyang Gana pun mendekati tumah itu.Tuan rumah yang sedari tadi  sudah melihat ada orang yang mendekati rumahnya langsung menyapa, Ada perlu apa ke sini..?Saya mengikuti tetesan darah landak yang kena belantik saya, jawab Puyang Gana. Silahkan masuk,  kata si pemilik rumah. Setelah dipersilahkan duduk, tuan rummah itu menanggapi cerita Puyang Gana. "Kalau itu yang Tuan cari, dia ada di dapur, itu kucing kami, jawab tuan rumah. Ternyata tuan rumah itu bernama Raja Sua. Raja Sua mempunyai anak gadis bernama Dayang Rejak. Alkisah, Puyang Gana pun menikah dengan Dayang Rejak.Sementara, di rumah orang tua Puyang Gana, lahirlah adik mereka yang nomor enam. Anak ini juga aneh karena dimulutnya membawa sekepal nasi . Karena itu, ia diberi nama Buinasi.Setelah beberapa tinggal dirumah mertuanya, Puyang Gana pun pulang dengan maksud untuk meminta bagian harta. Tapi malang nasib Puyang Gana karena adik-adiknya tidak mengenal dia karena Puyang Gana sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Raja Sua sudah mengubah bentuk Puyang gana. Sekarang ia sudah mempunyai tangan dan kaki seperti manusia biasa. Tapi Puyang Gana masih aneh dari orang kebanyakan karena punggungnya tumbuh rajang (sejenis anggrek hutan).

Adik-adiknya tidak mau membagi harta kepada Puyang Gana. Mereka berkata, Kamu bukan abang kami, kami tidak mempunyai abang seperti kamu.Lalu salah satu dari mereka melempar sebongkah tanah dapur kepada Puyang Gana sambil berkata, "Ini bagianmu, ambillahTerima kasih, ini lebih dari cukup, jawab Puyang Gana dengan raut muka sedih.Setelah itu ia pun pulang. Supaya tanah itu  menjadi sempurna, ia memanggil kawannya, yaitu Segugah untuk menempa tanah. Dialah ahlinya. Setelah tanah itu ditempa, kemudian Puyang gana memanggil Segugit untuk menempa langit. Ia juga memanggil Segentu untuk menempa kayu. Setelah itu, sempurnalah alam semesta ini sebagai tempat tinggal manusia.Sementara itu, di rumah orang tuanya, Buinasi menangis terus minta nasi karena nasi yang ada di mulutnya sudah habis. Maka dengan terpaksa, bapak mereka meleburkan diri menjadi segala macam bibit tanaman yang lain. Sedangkan Ibu mereka masuk ke dalam tanah dan menjadi emas. Agar bisa menghasilkan beras maka mereka sepakat untuk membuat ladang.

Mulailah mereka menebas tujuh buah bukit dan tujuh lembah. Setelah dirasa cukup, mereka berhenti dan pulang ke rumah untuk istirahat. Keesokan harinya, mereka pergi lagi melihat ladang. Tetapi alangkah terkejutnya mereka karena kayu-kayu yang telah ditebang kemarin berdiri lagi. Walaupun demikian, mereka tidak jera. Mereka pun mulai menebas dan menebangnya kebali. Seperti kemarin, setelah mereka merasa cukup, mereka pun pulang. Esok harinya, mereka pergi lagi. Untuk yang kedua kalinya  mereka terkejut lagi karena peristiwa kemarin terulang kembali.Peristiwa ini terus terulang sampai tujuh kali dan akhirnya mereka tidak tahan. Mereka sepakat bahwa ladang harus ditunggu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menunjuk Buinasi untuk mengunggu ladang sedangkan yang lain pulang ke rumah. Buinasi bersiap-siap menyaksikan apa sebenarnya yang terjadi. Setelah tihari menunggu, buinasi tidak melihat apa-apa. Akhirnya pada hari keempat, sore hari  menjelang malam, tiba-tiba Buinasi terkejut melihat sesosok  orang yang datang masuk ke ladang mereka. Orang itu kelihatan aneh. Badannya tinggi besar, bertongkatkan pohon mawang (buah asam hutan), baju renyu (lebah hutan), ikat pinggangnya ular sawah pendek, tombaknya seekor buaya, di belakangnnya ditumbuhi rajang (anggrek hutan). Tampangnya sangat menyeramkan. Orang itu berseru dengan suara lantang, "Ngas merangas berdiri segala raras, maka berdirilah semua kayu yang sudah mereka tebang dan menjadi hutan kembali.

Buinasi yang dari tadi memperhatikan segala kejadian dari jauh mulai beranjak mendekati Puyang Gana. Dengan geram ia berkata, Hai... Siapa kamu...? Ternyata kamu yang melakukan ini semua. Kami dengan susah payah menebang hutan ini, Kamu malah mengembalikan hutan ini seperti semula. Apa sebenarnya maksud kamu ? kata Buinasi. Orang aneh itu pun menjawab,  Nama saya Puyang Gana, tanah ini milik  saya. Tidak boleh orang lain menggunakan tanah ini tanpa izin dari saya, katanya.Mendengar itu, mengertilah Buinasi mengapa selama ini mereka selalu gagal membuat ladang. Tapi Buinasi penasaran, dan bertanya, Bagaimana Kamu bisa mengatakan bahwa tanah ini milikmu Begini ceritanya, kata Puyang Gana, Pada waktu itu saya datang meminta bagian warisan kepada kalian, kalian hanya memberi saya tanah dapur. Inilah tanah dapur yang kalian berikan kepada saya dulu. Ternyata Puyang gana tahu bahwa mereka itu adalah adik-adiknya.

Buinasi kembali bertanya, Jadi bagaimana kalau kami mau membuat ladang di sini..? Kalian harus minta kepada saya dengan membawa persembahan, yaitu padi tujuh tibang (nama tempat penyimpan padi), beras tujuh bening (tempayan), babi tujuh kandang, ayam tujuh gelanggang (kandang), besi tujuh rumang (batang), cucuk belantuk tawang, rimpik salai seluang, panggang manuk denang. Selain itu ditambah lagi jenis kue, yaitu tepung atau tumpik (sejenis cucur), kelamai (tepung beras dibuat bulat-bulat dimasak dengan air santan dan dicampur gula), sagun (tepung beras digonseng dan diberi kelapa dan gula). Wah kalau begitu kami tidak mampu, terlalu berat bagi kami, kata Buinasi. Tidak berat, kata Puyang Gana. Itu hanya syarat saja, tidak perlu yang sebenarnya, buat saja yang kecil-kecil sebagai lambang. Kalau sudah sampai ke kami, itu banyak, jawab Puyang gana. Setelah mendengar itu, Buinasi pun pulang dan menceritakan semua kejadian yang ia alami kepada saudaranya. 

Berdasarkan cerita inilah maka setiap masyarakat Seberuang ketika hendak membuat ladang harus meminta tanah kepada Puyang Gana karena ialah yang mempunya  tanah dan alam semesta ini.Menurut cerita, dari ketujuh kakak beradik ini sehingga alam semesta ini menjadi sempurna. Puyang Gana menjadi makhluk halus. Suluh Dai dan Gentang Temanai menjadi segala binatang, Bukuk Labuk menjadi segala macam bibit tanaman sama dengan ayah mereka. Belang Pinggang menurunkan orang-orang Barat, Buinasi menurunkan orang Dayak sedangkan Putung Kempat menurunkan orang-orang Melayu.

Berbicara tentang sistem- sistem yang terdapat dalam ruang lingkup masyrakat suku dayak seberuang adalah sebagai berikut :



A.    Sistem Bahasa

Dalam kehidupan sehari-hari masyrakat seberuang pada umumnya menggunakan bahasa dayak seberuang untuk menjalin komunikasi antar sesama. bahasa dayak seberuang sangat mudah dimengerti oleh masyrakat lain karena, sistem bahasanya tidak terlalu jauh dari bahasa indonesia dan hal ini terbukti karena banyak masyrakat di luar suku dayak seberuang yang dapat dengan mudah memahami setiap perkataan dan bahasa dayak seberuang adapun bahasa dayak seberuang jika diartikan dengan bahasa indonesia adalah sebagai berikut :



Bahasa Indonesia

               Bahasa Dayak Seberuang
                   Mandi
                          Manik
                   Makan
                          Makai
                   Berjalan
                          Bejalai
                   Tidur
                          Tinuk
                   Mau kemana
                          Kak kini
Kecil
                          Mit
Laki- laki
                         Meh
Perempuan
                          Dik



Sebenarnya masih banyak lagi bahasa dayak seberunag dan pada dasarnya bahasa seperti inilah yang sering di gunakan dalam kehidupan sehari-hari.



B.     Kesenian

Seperti sub suku lainnya sub suku dayak seberuang juga memiliki kesenian yang diwariskan secara turun temurun salah satunya adalah Tari-tarian, bepantun, Egkana ( berkisah dari mulut kemulut ), dan bemain ( bersayir ) dan kebanyakan yang sering dilakukan oleh masyrakat suku dayak seberuang adalah tari – tarian mengingat setiap acara adat pasti kerap kali disertai dengan tari-tarian bepantun dan bemain ( bersayir ) ini pun sering dilakukan terutama dalam acara pesta pernikahan sedangkan engkana ( cerita dari mulut kemulut ) hanya dilakukan oleh orang tua kepada anaknya ketika ingin menidurkan anak-anaknya dan tujuan dari melakukan hal tersebut tentu agar suatu saat kelak anak-anak masih mampu mengetahui dan mengingat segala budaya terutama budaya dari nenek moyang yang mereka jalani sampai saat ini.



C.    Mata Pencarian

Sistem mata pencarian dari suku dayak seberuang adalah petani terutama petani karet tetapi seiring berjalannya waktu banyak orang yang mulai beralih mata pencarian ke perkebunan sawit, dansuku dayak seberuang sama seperti suku-suku dayak lainya mereka juga terkenal dengan berladang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya tentu saja hal ini dilakukan untuk mampu mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan harapan yang diinginkan.



D.    Kepercayaan

Sistem kepercayaan suku dayak seberuang pada umumnya adalah percaya akan Tuhan yang mana sebagai penyelenggara hidup dan pemberi hidup ini. Seperti yang kita ketahui, pada umumnya suku dayak seberuang pada saat ini memiliki sistem kepercayaan Katolik. Dan kebanyakan dari suku dayak seberuang beragama katolik sehingga kebudayaan juga dipengaruhi oleh agama katolik misalnya dalam gawai adat biasanya sebelum dibuka dengan acara adat kerap kali dilaksanakan doa menurut agama  katolik.



E.     Ilmu pengetahuan

Sistem ini terus berkembang dari tahun- ketahun hal ini terbukti dengan banyaknya anak-anak dari masyrakat dayak seberuang yang telah mengenyam pendidikan bahkan ada yang sudah mampu menamatkan diri sampai keperguruan tinggi. Tentu saja hal ini sangat mempengaruhi dari sistem pengetahuan terutama Sumber daya manusia ( SDM ) dan hal hal yang berkaitan dengan kehidupan di hutan pun perlahan-lahan mulai ditinggalkan terutama hal berburu binatang faktor pertama tent saja karena tidak ada lagi binatang buruan.



F.     Sistem Sosial

Dari zaman nenek moyang sampai sekarang sistem sosial masyrakat suku dayak seberuang terus bertahan salah satunya adalah sistem sosial yang tidak pernah hilang adalah tolong menolong hal ini diberikan kepada semua orang. Tampa memandang setatusnya karena inilah yang mampu memprsatukan dan menciptkan rasa kekeluargaan yang kuat terhadap orang lain.



G.    Teknologi

Jika zaman dahulu masyrakat dari suku dayak seberunag masih menggunakan surat sebagai media dalam menyampaikan informasi, kini mulai perlahan-lahan ditinggalkan dan  mulai berubah serta mengikuti perkembangan zaman yang terus berkembang dan menawarkan kemudahan-kemudahan misalnya dalam hal berkomunikasi sekarang ini suku dayak seberuang mulai menggunakan henpone ( Hp ) karena dinilai sangat mudah menyampaikan informasi dan informasi yang disampaipun sangat cepat untuk disampaikan kepada orang lain.



2.      Mengenal tradisi adat yang masih terus dilestarikan

Adapun Ritual- ritual adat yang masih sering dilaksanakan di sub suku seberuang adalah

-    Pesta memandikan anak kesungai

Pada umumnya setiap orang akan mengalami dan merasakan bagaimana hidup berkeluarga terkeculi mereka yang memang terpilih menjadi pelayan- pelayan pastoral karena kaul yang mereka ucapkan mereka adapun mereka  adalah para imam, suster dan bruder atau lebih dikenal dengan kaum tertabis. Sebagai seorang umat awam yang biasanya tinggal dalam lingkungan kebudayaan tentu saja akan mengalami hal yang namanya berkeluarga termasuk mendidik dan membesarkan anak.dalam tradisi kebudayaan adat dayak seberuang ketika seseorang telah memiliki anak terutama anak yang baru lahir yang berumur 1 tahun sudah bisa dilaksanakan pesta memandikan anaknya kesungai dalam pesta permandian anak kesungai ini pertama tama yang dilakukan adalah bagaimana sebelum memandikan anak kesungai dilaksanakan doa bersama dan biasanya dalam doa itu dipimpin oleh ketua umat atau petugas pastoral yang berada di tempat itu.

Setelah doa selesai dilaksanakan baru lah proses adat dilaksanakan yaitu dengan acara adat dalam proses pelaksanaan adat itu adapun alat-alat yang dipersiapkan dalam proses adat adalah Gong, senapan laras panjang, kain yang digunakan untuk mengendong anak, sesajian yang disiapkan oleh tua rumah dalam proses pesta tersebut seperti Tumpik ( tepung yang dibuat menyerupai jempol ) , hati ayam, kepala ayam, dan daging ayam yang di bawa ketempat talaman atau sejenis tempat yang digunakan untuk proses penyimpanan sesajian tersebut. Dan biasanya acara adat itu sendiri dipimpin oleh ketua adat atau digantikan oleh orang tua yang memang bisa menyebutkan atau membacakan mantera adat tersebut.

Adapun proses dari adat itu adalah sebagai berikut ini  setelah pemimpin umat selesai berdoa dirumah orang yang melaksanakan pesta permandian anak kesungai, mulailah selanjutnya dilanjutkan dengan upacara adat dan yang harus pembaca ketahui yang nantinya membawa anak kesungai bukanlah ibu atau bapak dari anak tersebut melainkan orang lain atau bisa lebih tepatnya saudara dari ayah dan ibunya.  ketika anak tersebut dibawa turun dari tangga atau berangkat dari rumah hal pertama yang harus dilakukan adalah membunyikan Gong dan biasanya anak dan pembawa anak itu berdiri di barisan yang paling depan dan didepan anak itu ada pembaca mantera adat tersebut. setelah semua arak-arakan dan rombongan anak yang ingin dimandikan tiba di sungai biasanya pemipin adat tersebut mulai membacakan mantera di sungai sambil membuang sesajian yang tadinya dibawa dan disiapkan oleh tuan rumah seperti tumpik sejenis tepung yang dibuat menyerupai jempol kaki,hati ayam,daging ayam,dan kepala ayam.setelah sesajian itu selesai di taburkan kesungai dan mantera itu selesai dibacakan maka mulailah ketua adat memanggil orang yang mengendong anak itu dan menyuruh orang itu untuk membawa anak kecil itu kepadanya. Selanjutnya iapun mencelupkan anak itu kesungai sementara dari masyrakat ada yang menembak menggunakan senapan raras panjang ke langit sebanyak tiga kali yang menandakan anak itu sudah dimandikan ke sungai. Setelah bunyi senapan tiga kali artinya anak itu sudah selesai dan diangkat dari sungai itu.

Adapun tujuan dari dilakukannya adat ini adalah menandakan bahwa anak itu untuk pertama kalinya dibawa mandi kesungai dan harapannya supaya kelak ketika anak itu sudah bisa mandi kesungai dengan sendirinya, anak itu tidak diganggu oleh setan yang ada disungai sehingga nanti ketika ia mandi dapat dengan tenang dan pulang dengan selamat ke rumahnya. dan adat inilah yang masih terus dilestarikan sampai pada saat ini dan biasanya dalam pesta mandi kesungai ini acaranya sangat meriah dan banyak orang- orang kampung yang ambil bagian dalam acara tersebut.

3 komentar:

Diana Handayani mengatakan...

Mudah-mudahan adat ini pertahankan

Dony mengatakan...

Nuan udh suah berkunjung kin dek??

Unknown mengatakan...

Ingin skali ksana dlu pas masi kcil sslu mlihatiny dari kjauhan diantara sawah2..&prng dgr ceriga kl prnh ada kcelakaan psawat disitu 1 org masi hidup..tp skarang sdh g klihatan lg dr dkat rmhq krn skarang uda pada ditanami karet,, jd kl g pas di tempat yg tinggi g bisa liat..kpan y busa ksanaa..aku bgitu mengaguminy

Posting Komentar

 

LORENSIA EVI Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates